Poundsterling terpampang melemah terhadap Greenback pada sesi trading
Jumat (28/11) ini pasca dirilisnya data harga perumahan Inggris.
Laporan tersebut meraih hasil yang lebih rendah dari ekspektasi. Selain
itu, bangkitnya USD setelah terdepresiasi serangkaian data buruk Rabu
lalu juga turut mendorong turun nilai GBP.
Harga Properti Inggris Gagal Penuhi Ekspektasi
Dalam laporannya, Nationwide Building Society menyatakan bahwa harga
properti Inggris hanya meningkat ke level 0.3%. Padahal, data ini
diprediksikan tumbuh ke level 0.4%, setelah sempat naik di angka 0.5%
bulan sebelumnya. Sementara itu, harga properti tahunan juga meningkat
di level yang lebih rendah dari perkiraan, yakni sebanyak 8.5%.
Sebelumnya, data tersebut diekspektasikan tumbuh di angka 8.6%, atau
lebih rendah dari pencapaian Oktober lalu di 9.0%.
Dolar AS Pulih, Sterling Berganti Turun
Terkait dengan hal ini, GBP/USD terpantau merosot ke level 1.5680
pada awal sesi Eropa hari ini. Perolehan tersebut merupakan yang
terendah sejak Rabu lalu. Pair ini kemudian terkonsolidasi di 1.5703,
atau berkurang sebanyak 0.21%. GBP/USD diperkirakan mencapai support di
angka 1.5626, atau level terendah 26 November lalu. Sedangkan resistan
dari pair tersebut diprediksi berada di level tertinggi Kamis lalu,
yakni di poin 1.5828. Terhadap Euro, Sterling masih tercatat flat,
dengan hanya beranjak naik 0.03% ke level 0.7925.
Di sisi lain, Greenback berhasil memulihkan diri pasca
rentetan data buruk AS
yang dirilis Rabu lalu. Pada rangkaian laporan tersebut, jumlah pemohon
tunjangan pengangguran meningkat di level yang lebih tinggi dari minggu
lalu. Data pesanan untuk barang tahan lama memang berhasil sejajar
dengan ekspektasi, namun pesanan untuk barang tahan lama inti jatuh
lebih rendah dari perkiraan. Sementara itu, sentimen konsumen AS juga
direvisi turun dari data pendahulunya.
Nantikan Inflasi Zona Euro
Saat ini, investor tengah memusatkan fokus perhatian pada data
inflasi Zona Euro yang akan rilis sore ini. Forecast terhadap data ini
terpantau lebih buruk dari hasil sebelumnya, yaitu di 0.3%. Padahal,
inflasi Zona Euro sempat berada di level 0.4%. Sebelumnya, Wakil
Presiden ECB,
Vitor Constancio menyebutkan jika QE akan segera dimulai pada kuartal pertama tahun depan untuk menghindari resiko deflasi.